Showing posts with label Gue Lagi WARAS. Show all posts
Showing posts with label Gue Lagi WARAS. Show all posts

Apakah Kekurangan Kita itu Adalah Kelemahan?

Kemarin gue ngobrol-ngobrol sama temen gue yang udah cukup dewasa. Dia baru saja ditinggalkan oleh suaminya. Sebut saja, Ningsih namanya. Ningsih curhat tentang cowok-cowok yang mendekati dia cuma karena alasan dia adalah seorang janda. Dia pun stress juga karena setiap cowok yang ngedeketin dia, tujuannya nggak ada yang serius. Selalu cuma mau main-main, atau cuma seneng-seneng doang. Karena alasan itu, akhirnya Ningsih males buat pacaran lagi. Dia jadi apatis sama setiap cowok yang mau mendekati dia.

Tapi dari semua cowok-cowok iseng itu, Ningsih juga bercerita tentang seorang cowok yang mendekati dia secara tekun. Hampir setahun lamanya cowok itu selalu menghubungi Ningsih secara intens. Tuh cowok lebih muda dari dia, punya karier yang oke, dan kehidupan yang mapan. Saat gue tanya, apakah Ningsih akan menerima cowok itu, Ningsih menjawab tidak. Ningsih bilang, dia ngerasa nggak layak buat dimiliki cowok itu karena Ningsih punya banyak kekurangan. Statusnya yang sudah janda, anaknya yang udah gede, adalah beberapa kekurangan yang membuat dia menolak cowok itu. Ningsih merasa tidak pantas untuk memiliki pria itu, karena dia berpikir, di luar sana masih banyak cewek yang lebih menarik, masih perawan, dan lebih layak untuk memiliki cowok itu.

Di titik itu, gue gemes sama Ningsih. Dia merasa kesepian karena tidak punya pasangan untuk membesarkan anaknya. Tapi di sisi lain, dia menolak orang yang bersedia menerima apa adanya. Karena cerita itulah, gue mau berbagi kepada kalian di postingan ini. Gue pengin membahas tentang hal-hal di dalam diri kita yang kita anggap sebagai kekurangan.


Sadar nggak sih, kadang kita itu terlalu sibuk melihat kekurangan kita sendiri dibanding kelebihan kita? Sadar nggak sih, kadang orang lain tidak menyadari tentang kekurangan kita? Justru mereka baru menyadari kekurangan kita, dari sikap kita saat mencoba menutup-nutupi kekurangan kita.

Gue pernah membaca buku yang ditulis oleh seorang biksu Tibet bernama Ajahn Brahm. Dia bercerita tentang seorang pemilik rumah yang gundah karena rumah yang dia bangun, ada satu batu bata yang dipasang terbalik. Bukan horizontal posisinya, tapi vertikal. Karena hal itu, pemilik rumah terlihat sangat kecewa dan merasa rumahnya tidak sempurna. Lalu biksu itu berkata, 

"Apakah dengan satu batu bata yang terbalik itu, rumahmu akan ambruk?"

"Tidak." Jawab si pemilik rumah.

"Apakah dengan satu batu bata yang terbalik itu, rumahmu bisa ditembus oleh air hujan, maling, dan binatang liar?"

"Tidak pernah" Pemilik rumah menggelengkan kepalanya.

"Apakah dengan satu batu bata yang terbalik itu, orang-orang akan menganggap rumahmu jelek?"

"Belum ada yang bilang begitu." Pemilik rumah kembali menggelengkan kepalanya.

"Nah.. Kalau begitu, apa yang kamu khawatirkan dari rumahmu?"

"Aku menginginkan rumah yang sempurna konstruksinya.  Satu kekurangan ini mengganggu pikiranku."

"Sadarlah.. Batu bata yang terbalik ini memang mungkin tidak indah bentuknya. Tapi lihatlah.. Posisinya memang seperti itu untuk menutupi bagian yang kosong di bagian tembok pojok ruangan. Apabila kamu memaksakan untuk tidak memasang batu itu dengan posisi seperti sekarang, bagian tembok itu tidak akan kuat. Kamu memilih rumah yang sempurna bentuknya namun tidak kuat, atau rumah yang memiliki kekurangan bentuknya, namun kokoh?" Biksu menjelaskan sambil menunjuk bagian pojok rumah yang batu batanya terbalik itu.

Pemilik rumah terperangah, lalu menyadari apa yang dikatakan Biksu itu benar. Dia pun tersenyum, dan segala muram durjanya hilang seketika.

Itulah manusia, kadang kita terlalu fokus kepada kekurangan kita, sampai akhirnya kita melupakan kelebihan kita. Gue jadi inget sama cerita gue sendiri dulu, di mana setelah gue kecelakaan, dan mata kanan gue mengalami cacat permanen. Gara-gara cacat di mata itu, gue jadi kehilangan semua rasa percaya diri gue. Gue pun tutupin mata kanan gue pake perban putih besar, meskipun sudah nggak luka lagi. Gue cuma nggak mau orang-orang melihat cacat gue di mata ini.

Keputusan itu ternyata membuat hidup gue semakin kacau. Orang-orang yang gue temui malah melihat perban gue dan membahas hal itu setiap kali kita mengobrol. Yah, gue pun semakin ngedrop. Akhirnya, setelah jengah dengan pertanyaan-pertanyaan orang, gue mulai mikir nothing to lose. Sudahlah, gue lepasin nih perban di mata. Gue plaster dikit aja di pojokan mata, karena kondisi mata gue kalo tanpa plaster itu, bakal selalu ngeluarin air mata. Kelopak mata gue masih sedikit terbuka, setelah operasi terakhir di mata gue.

Setelah gue nyoba cuek dengan cacat di mata gue, justru malah sedikit orang yang notice kalo mata gue nggak sempurna. Tapi ada juga orang yang notice dengan keadaan mata ini. Setiap ada yang nanya mata gue kenapa, gue langsung ceritain sejarah mata gue seperti di postingan INI. Dan setelah gue nyeritain itu, yang ada mereka malah salut dengan masa lalu gue yang begitu kelamnya, dan gue bisa survive. Jadinya, gue nyadar, ternyata kekurangan dalam diri kita, nggak selalu jadi kelemahan. Justru kadang itu malah menjadi kekuatan tersendiri yang membuat orang merasa kita lebih spesial.

Kembali kepada soal Ningsih. Berbekal pengalaman itu, gue pun ngasih masukan untuk Ningsih. Agar dia nggak pesimis lagi tentang keadaannya. Dia selalu pesimis untuk menerima orang baru karena dia merasa status janda dan punya anak itu akan membuat cowok-cowok ilfeel sama dia. Gue jelasin ke dia, bahwa status janda dan punya anak itu bukanlah kekurangan.

"Kalo ada cowok yang datang ke elo, harusnya elo nggak boleh minder. Justru cowok itu yang harus minder." Gue mulai coba jelasin ke dia.

Ningsih mengernyitkan dahi, "Kok bisa?"

Gue pegang pundak Ningsih, dan tatap matanya dalam-dalam, "Gini.. Lihat deh, Ning.. Dengan status lo yang janda, lo kerja dengan jalan yang halal, lo bisa ngegedein anak, nyekolahin anak, sendirian. Kok bisa lo anggep itu kekurangan. Justru itu kelebihan."

Ningsih terdiam, dan gue melanjutkan, "Bisakah dia menjadi pasangan yang lebih bertanggungjawab dari lo? Bisakah dia lebih tangguh dari lo? Cowok yang datang ke elo, istilahnya udah nggak perlu mikir berat banget untuk nafkahin lo. Karena lo udah bisa ngelakuin itu semua sendiri sebelumnya. Justru dia sendiri yang harus membuktikan bahwa dia bisa lebih baik usahanya dibanding lo, karena dia cowok. Ngerti?"

Ningsih mengangguk dan tersenyum.

"Pokoknya, jangan galau lagi. Kalo ada cowok datang ke elo, kasih tau dia, bahwa tanpa ada dia, hidup lo udah jalan dengan baik. Jadi, kedatangan dia harus bisa membuat hidup lo lebih baik, bukan makin ribet. Karena elo sudah mandiri, pastikan cowok itu bisa menyokong kemandirian elo, bukan memanfaatkan elo."

"Tapi kegagalan pernikahan itu kan nilai minus juga, Litt." Ningsih kembali mengeluh.

"Gini.. Kan pernikahan lo gagal, jelas karena laki lo dulu kabur sama cewek lain. Ninggalin lo dan anak lo. Apakah itu salah lo? Enggak. Justru lo harus bangga, karena lo masih bisa survive dengan hal itu." Gue kembali menepuk pundaknya. Ningsih tersenyum.

Itulah akhir dari obrolan kami. Ningsih tampaknya sekarang sudah nggak galau-galau lagi. Gue liat, dia udah mulai posting foto-foto ngedate sama cowok. Gue seneng ngelihatnya. Gue seneng, karena apa yang gue saranin, bener-bener mampu dia tangkap dengan baik.

Kesimpulannya sih, jangan takut untuk terlihat tak sempurna di depan orang lain. Kekurangan itulah yang membuat kita disebut manusia. Terlalu berusaha untuk membuat diri kita terlihat sempurna hanya akan membuat kita lupa caranya hidup bahagia. Karena kebahagiaan itu berawal dari saat kita bisa tampil apa adanya.

Nah, buat kalian yang masih suka minder sama kekurangan, coba deh liat kekurangan itu dari sudut pandang yang berbeda. Apakah itu memang sebuah kekurangan yang harus diperbaiki, ataukah itu sebenernya adalah sebuah kelebihan yang membuat lo salah persepsi?

Api Cinta itu Hanya Ada Saat Belum Memilikinya



Gue yakin, elo pasti lebih inget orang yang pernah lo cintai, tapi akhirnya malah menyakiti, dibanding pasangan yang pernah sama-sama  selalu mencintai sampai bosan sendiri.

Kenapa gue bilang gitu? Akhir-akhir ini gue kepikiran, lagu-lagu bertema patah hati itu selalu lebih meledak dibandingkan lagu-lagu yang menceritakan indahnya jatuh cinta. Lagu yang membahas tentang cinta yang terkhianati, lagu yang membahas tentang cinta yang tak terungkapkan, maupun lagu yang membahas tentang cinta yang tak bisa dimiliki, memiliki kekuatan yang lebih “nonjok” dibandingkan lagu-lagu yang membahas tentang hati yang berbunga-bunga.

Hal itu beralasan. Orang itu lebih ekspresif saat mereka sedang sakit hati. Orang itu lebih sensitif saat mereka sedang terluka hati. Dan orang itu akan lebih mengingat detil orang yang menyakitinya dibanding orang yang membahagiakannya. Di postingan kali ini, gue mau ngajakin lo buat melihat cinta, dari sudut pandang berbeda. Iya, cinta itu benar-benar terasa, saat kita tidak sedang memilikinya. Itu yang gue pahami. Dan pemahaman semacam itu, datang dari pengalaman yang pernah gue jalani. Begini ceritanya..

Gue inget, beberapa tahun yang lalu, gue suka sama seorang cewek, bernama Ria. Cewek itu sekampus sama gue, sejurusan juga, namun kita tidak seperasaan. Ria ini adalah cewek berwajah adem kejawa-jawaan. Tiap dia ngomong, terasa lembut di hati. Menurut gue, Hitler pun kalo denger dia ngomong, pasti bakal jadi orang yang baik, dan nggak bunuh-bunuhin Yahudi lagi. Rambut Ria berwarna hitam, panjang, lurus sepundak. Kulitnya terlalu putih untuk ukuran cewek Jawa. Bibirnya merah, tanpa lipstick, dan parfumnya tak pernah ganti, Bvlgari Jasmin Noir. Dia nggak pernah ngasih tau merk parfumnya, tapi gue sering merhatiin dia kalo lagi nyemprotin parfum itu ke lehernya. Pertama kali gue ketemu dia adalah saat gue harus ke rental printer pagi-pagi. Kebetulan rental itu ada di dekat kosannya. Dan pertama jalan kaki bareng dia menuju kampus itu, mengubah hari-hari ngampus gue selanjutnya.

Kosan Ria ada di belakang kampus, sedangkan kosan gue ada di depan kampus. Setiap pagi, gue sengaja berangkat ngampus 15 menit lebih awal, biar bisa jalan kaki bareng dia. Iya, gue harus muterin setengah bangunan kampus yang ukurannya segede kampung halaman gue itu, hanya untuk bisa jalan bareng Ria. Tapi Ria tidak tahu kost gue di mana, yang dia tahu, kami jalan karena tujuannya searah. Iya, 10 menit jalan kaki bareng dia adalah 10 menit terindah dalam hari-hari gue. 10 menit yang mampu membuat gue selalu bisa bangun lebih pagi. 10 menit yang selalu gue pikirin setiap menjelang tidur di malam hari. Apakah setiap pagi jalan kaki mondar-mandir itu melelahkan buat gue? Nggak. Rasa lelah itu tertutup rapat oleh rasa bahagia karena bisa ngobrol dan jalan bareng dia. Gue nggak bisa ngerasa capek untuk mencintai, karena cinta itu memberikan energi tersendiri. Lihatlah hidup orang-orang yang tanpa cinta. Tak ada gairah, tak ada usaha, tak ada tenaga.

Kembali kepada topik si Ria. Pernah suatu ketika, gue jalan kaki seperti biasanya, lalu melambatkan langkah saat gue melewati depan kost si Ria. Gue lihat, pagi itu Ria tak kunjung tiba. Gue nggak bisa nanya Ria di mana, karena gue nggak pernah berani meminta nomor handphonenya. Gue lihat jauh ke depan, Ria juga tak terlihat di ujung jalan sana. Gue sengaja melangkah lebih lambat, agar nanti kalau Ria ternyata memang telat, dia bisa menyusul gue di jalan. Tapi 10 menit melewati jam kuliah dimulai pun, gue nggak berpapasan dengan si Ria. Bahkan sesampainya di ruang kelas, gue juga nggak menemukan si Ria.

Gue tanyain ke Dini, sahabat Ria, ke manakah gerangan si Ria berada? Dini mengatakan bahwa Ria sedang sakit, demam tinggi membuat Ria jadi dia absen hari itu. Selepas kuliah pertama, gue langsung pergi dari kampus, lalu mampir ke minimarket sebelah. Gue inget banget, gue adalah orang yang sangat ketat dengan pengaturan finansial. Zaman itu, gue jatah diri gue sendiri uang 30 ribu/hari untuk makan. Dan hari itu, gue memutuskan untuk memberikan hal yang berguna untuk kesembuhan si Ria. Gue membeli obat penurun panas, dan Redoxon, lalu duit gue tinggal tersisa 2 ribu rupiah. Uang sisa segitu, gue beliin mie instant buat jatah makan seharian.

Gue berjalan dengan penuh semangat ke kost si Ria, lalu membayangkan bahwa dia akan sangat bahagia dengan apa yang gue bawa buat dia. Tapi semangat itu memudar seketika bersamaan dengan apa yang gue lihat di teras kostnya. Ria sedang disuapin oleh seorang cowok seumuran kita. Pucatnya, tak menutupi kecantikannya. Serak di tenggorokannya, tak mengurangi kemerduan suaranya, saat bilang “pelan-pelan aja ya..” kepada cowok yang menyuapinya.

Pemandangan di depan gue emang sempat membuat gue gentar. Tapi apa yang udah gue bawa, nggak boleh sia-sia. Gue tetap memberanikan diri untuk mendekat, dan menyerahkan obat-obatan yang gue beli untuk Ria. Ria terlihat senang dengan apa yang gue bawa. Cowok yang menyuapinya juga mengucapkan terima kasih untuk apa yang gue lakukan untuk Ria. Lalu dia memperkenalkan dirinya, namanya Reno, gebetan Ria.

Sesaat setelah gue berbasa-basi dan terlihat baik-baik saja, gue segera pamit undur diri dari kost si Ria. Gue berjalan kaki menuju kost gue, sambil memakan mie instan mentah yang diremukin. Seremuk hati gue yang diremukin fakta bahwa Ria sudah memiliki orang yang dicinta.

Setelah kejadian itu, gue jadi manusia yang paling melankolis di dunia. Gue selalu melihat sisi gelap dunia. Ketidakadilan dunia, kekejaman cinta, kehancuran hati gue, semua berlalu lalang di dalam kepala. Segala keceriaan dunia seakan musnah begitu saja. Gue ciptakan puluhan puisi yang menyayat hati, gue ciptakan lagu-lagu yang mampu menyihir hati hingga beku, gue lukis warna-warna mati semati harapan gue untuk memiliki Ria. Itu adalah waktu yang sangat kelam namun tak terlupakan buat gue.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, gue udah terbiasa berjalan kaki sendirian dari kost langsung ke kampus, tanpa perlu muter melewati kost Ria lagi. Gue nggak marah sama Ria, gue cuma merasa, gue nggak layak memperlakukan hal spesial lagi untuk dia. Karena gue sadar, sudah ada orang lain yang bertanggung jawab atas hal-hal itu untuk dia.

Di kampus, gue bertemu Ria. Senyumnya tidak berbeda, masih seindah biasanya. Senyumnya masih dengan mudah meluruhkan amarah. Tawanya, bisa sekejap menghapuskan segala dendam yang ada.

“Alitt!! Jahat banget sih?!” Tanya dia mendadak membuat gue bingung.

“Ha? Jahat gimana?”

“Pindah kosan kok nggak bilang?” Ria mencubit pipi gue. Bukan sakit yang gue rasakan saat itu. Aneh, yang dicubit itu pipi, tapi kenapa yang terasa nyeri malah hati?

“Pindah kosan? Pindah ke mana?” Gue bingung karena gue nggak merasa pindah kost.

“Loh? Kamu nggak pindah? Kok kita nggak pernah ketemu di jalan lagi?”

Pertanyaan Ria membuat gue terdiam beberapa saat. Bingung untuk menjelaskan bahwa selama ini gue sengaja jalan muter-muter cuma agar bisa jalan kaki bareng dia.

“Kosanku dari dulu memang di depan kampus itu kok. Yang cat biru itu.” Akhirnya kalimat itu tercetus juga.

Ria terlihat bengong, dia gigit bibirnya, matanya layu, layaknya kucing lapar yang berharap untuk dilempar ikan kerapu.

“Jadi.. Selama ini…” Ria sepertinya sengaja tak menyelesaikan kalimatnya.

“Iya.” Gue tersenyum penuh makna, sambil menatap matanya dalam-dalam.

Ria lalu duduk di kursi kelasnya, dengan tatapan kosong. Ria melewati kuliah hari itu dengan tatapan kosong yang sama.

Sepulang kuliah, Ria menghampiri gue. Dengan ramah, dia menepuk pundak gue.

“Balik bareng yuk!”

“Tapi..” Gue mau bilang, kalo jalan pulang kita nggak searah.

“Aku cuma mau lihat kosanmu di mana. Hehe.. kalo boleh..”

“Baik..”

Kita berdua jalan keluar dari kampus, gue sempetin buat beli cilok buat dimakan berdua sepanjang jalan. Kami mengobrol panjang sambil tertawa-tawa, sampai depan kosan gue.

Di depan kosan, Ria berpamitan.

“Oh.. Ini kosanmu.. Jauh juga yah, kalo harus muter dulu ke belakang kampus. Hehe..”

“Hehe..” Gue tersenyum kaku. Seakan-akan ada behel yang dipasang di bibir gue.

Sejak hari itu, setiap pagi Ria yang menghampiri, dan menunggu gue di depan kosan. Lalu kita jalan ke kampus barengan. Itu rute yang lebih wajar, karena setiap Ria mau ngampus, dia memang melewati kosan gue. Dibanding gue yang harus muter ke belakang kampus dulu, cuma agar bisa jalan kaki bareng dia mulu.

Sebulan kemudian, gue dan Ria jadian. Ria mengatakan bahwa dia tidak bisa menerima Reno, karena Reno tidak tinggal di kota yang sama. Ria trauma dengan LDR, dia tidak mau memberi harapan kepada Reno. Saat baru memiliki Ria, adalah saat yang membuat gue sangat bahagia. Akhirnya, segala perjuangan gue sebelumnya, berbuah manis juga.

Tapi kebahagiaan itu pelan-pelan memudar. Di mana cinta, berubah menjadi kewajiban, bukan lagi hal yang dijalani dengan ketulusan. Di mana gue harus selalu menuruti permintaan Ria untuk menemani dia pulang-pergi ngampus, baca-baca buku di perpus, dan nungguin dia perawatan di salon berjam-jam sampe gue bosen mampus.

Memiliki Ria ternyata tidak seindah zaman gue belum memilikinya. Zaman di mana karakternya masih dibatasi imajinasi gue aja. Zaman di mana dia belum menunjukkan sisi-sisi gelapnya. Zaman di mana gue nggak dipaksa untuk makan-makanan yang dia baru coba masak, hingga membuat gue 3 hari berak-berak. Gue nggak boleh protes, karena gue nggak boleh mengecewakannya, karena membuat dia selalu bahagia adalah kewajiban. Ah!!

Belum lagi sifat posesif dia yang ternyata berbahaya. Di mana, gue ngobrol sama temen sekelas yang cewek aja bisa membuat dia ngambek dan diemin gue seminggu lamanya. Di mana gue harus membiarkan dia mengobok-obok inbox SMS hape gue buat memastikan bahwa gue nggak ngedeketin cewek lain.

Gue nggak bisa protes, karena gue cinta. Meskipun gue capek, dan mulai nyadar bahwa cinta yang sudah menjadi kewajiban itu ternyata menyebalkan. Gue harus menerima dia apa adanya. Gue harus selalu berusaha membahagiakan dia. Gue harus bisa menjadi seperti yang dia minta, meski gue nggak nyaman menjalaninya. Melelahkan juga.

Gue coba buka-buka lagi puisi, lagu, lukisan, yang pernah gue buat untuk Ria saat gue patah hati olehnya dulu. Di titik itu, gue nyadar. Api asmara itu justru ada di saat kita tidak saling memiliki. Di saat kita hanya melihat indahnya si dia. Di saat kita bisa dengan tulus memaklumi segala kekurangannya. Cinta sejati itu tumbuh dari rasa sakit. Iya, orang yang bisa benar-benar menyakiti kita, cuma orang yang benar-benar kita cinta. Mungkin elo bakal santai aja, kalo lo dicuekin oleh orang yang nggak lo suka. Tapi lo bisa galau berbulan-bulan saat lo dicuekin gebetan, kan?

Dan akhirnya, gue dikalahkan oleh rasa bosan. Bosan terhadap segala kekurangan Ria, bosan untuk selalu memakluminya. Iya, waktu itu gue emang belum dewasa dalam mencinta. Akhirnya, kami pun sepakat untuk memutuskan hubungan cinta. Anehnya, beberapa saat setelah kami berpisah, gue kembali bergairah. Rasa cinta kembali tumbuh, rasa rindu kembali menggebu. Gue kembali pengin memperjuangkan cinta si Ria. Maunya hati ini apa sih? Kampret, kan?

Mau diterima atau tidak, begitulah pilihan yang diberikan oleh cinta. Selalu mencintai orang yang tak pernah bisa kita miliki, atau Memiliki orang yang tak kita cintai. Tapi yang jelas, cinta itu adalah yang mampu memberimu energi dan gairah. Cinta itu yang bisa membuatmu selalu gelisah. Cinta itu yang bisa menggerakkan hatimu hingga kamu bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya berat untuk dilakukan. Dan saat kamu tak lagi bergairah, tak bersemangat, dan tak tulus lagi berkorban untuk dia, itu adalah tanda bahwa cinta sudah tak bersemayam di sana.

Don’t get in a relationship with the one you don’t love. Sacrificing is hard, if it’s not for the one you love. But it’ll be easy if you do it for the one you really love. Hubungan, baik itu pacaran maupun pernikahan, bukanlah keputusan yang bisa diambil dalam keputusasaan. So, setelah baca tulisan ini, apa lo masih berani memiliki orang yang lo cintai?

Jangan Berkomitmen Karena Alasan Ini..


Tiap lebaran, tiap arisan keluarga, tiap ada saudara nikahan, lo (yang udah dianggap dewasa) pasti gerah sama pertanyaan "Kapan nikah?"

Mungkin pertanyaan itu buat para penanya cuma basa-basi semata. Tapi buat lo yang usianya memang udah layak nikah, namun belum juga punya pasangan (atau punya pasangan tapi dia nggak ngasih-ngasih kepastian), pertanyaan itu bisa bikin resah. Apalagi kalo pertanyaan semacam itu diulang-ulang terus setiap ketemu saudara. Lama-lama bikin kita pengin pindah ke Mars dan  belajar membahagiakan diri sendiri.

Tenang.. Di postingan ini, gue mau berbagi tentang beberapa alasan untuk tetap sendiri dulu daripada terjebak hubungan palsu. Iya, jangan sampai lo mencoba berkomitmen (pacaran/nikah) karena alasan-alasan di bawah ini, karena efeknya bisa bahaya:

Kesepian
Serunya hidup saat punya banyak teman buat diajak ke mana-mana. Berbagi canda tawa, maupun berbagi perihnya luka. Tapi kadang kesenangan itu hilang, saat mereka mulai jatuh cinta. Karena tak akan ada lagi teman yang sama, saat mereka sedang dimabuk cinta. Wajar, setelah mereka pacaran, mereka punya prioritas baru yang kadang lebih penting dibanding pertemanan. Efeknya apa? Lo kesepian.

Dari yang biasanya punya temen buat nongkrong, jadinya nongkrong sendiri. Dari yang biasanya punya temen buat ngegame, jadi ngegame sendiri. Dari yang biasanya boker bareng, punggung-punggungan, jadi cebok sendiri. Pengalaman semacam itu memang pedih. Hidup berasa punya lubang besar yang terasa menganga, dan hampa.

Dalam keadaan kayak gini, kadang ada dorongan buat nyari pacar biar sama-sama punya pasangan kayak teman-teman dan nggak lagi kesepian. Apakah itu langkah yang bijak? TIDAK.

Bila kesepian adalah alasan lo untuk berkomitmen, maka saat lo nggak kesepian lagi, lo bakal dengan mudah ninggalin komitmen itu. Kenapa? Karena saat lo nggak kesepian, lo nggak perlu lagi pasangan. Kasian, si pacar cuma jadi cadangan pengusir kesepian. Lo tega?

Coba baca tulisan gue YANG INI, mungkin mencerahkan soal kesendirian.

Dikejar Umur
Seperti keresahan yang gue tulis di pembuka tulisan ini. Omongan saudara, orang tua, yang menanyakan tentang pasangan hidup di saat lo udah dianggap dewasa memang mengganggu. 

Gue sering banget denger temen-temen (terutama cewek) yang seumuran gue nyeletuk, "Pokoknya siapapun yang dalam waktu dekat berani datang ke rumah dan melamar aku ke orang tuaku, bakal aku nikahin."

Kadang iba sama orang-orang yang kayak gini. Ya mending kalo yang ngelamar dia manusia, kalo Jenglot gimana?

Tapi apakah segera menikah adalah solusi untuk masalah dikejar umur itu? TIDAK.

Buru-buru nikah dengan orang yang belum benar-benar kita kenal pribadinya itu seperti membeli kucing dalam karung. Kita nggak tau apa yang akan kita dapatkan. Syukur-syukur, dapetnya kucing persia yang berbulu lebat dan lucu, nah kalo dapetnya kucing garong? Kan sayang.

Mana rencananya bakal selamanya menjalani hidup sama orang itu, pula. Kata nyokap gue, orang yang salah milih pasangan hidup, maka akan salah juga caranya dalam menjalani hidup. Pasangan yang baik, yang selalu memberi dukungan, dan doa, akan memberikan kehidupan yang lebih baik. Namun pasangan yang selalu cuek, kasar, dan terlalu dominan, akan membuat hidup semakin penuh beban. Bayangin seramnya punya pasangan semacam itu sampai lo tua.

Masih minat, asal nikah buru-buru?

Pengin Move On
Ini yang bikin gue kadang gemes. Setelah patah hati, daripada galau, beberapa orang memilih untuk segera jadian lagi. Mereka percaya, dengan punya pacar baru, mereka bakal segera lupa kepada orang dari masa lalu. Padahal... TIDAK.

Segera jadian, mungkin akan membuat lo seneng lagi, bisa ketawa-ketawa lagi, dan bisa ngerasa lebih baik. Tapi emangnya harus pacaran ya, biar bisa gitu lagi?

Sebaiknya, lo kenali dulu kebutuhan orang patah hati itu apa aja. Seperti, teman buat berbagi uneg-uneg di hati, bahu untuk menangis, dan kalimat penyejuk hati. Di mana, itu semua bisa didapat dari teman-teman yang bisa mengerti. Nggak selalu dari pacar.

Kenapa gue saranin untuk nggak jadian setelah lo putus? Karena kenyamanan yang lo rasain dari pasangan baru lo itu biasanya cuma bakal bertahan sesaat. Iya, saat hati lo masih cidera aja. Nanti begitu hati lo udah sembuh lukanya, lo nggak ngerasa perlu pendengar lagi, nggak ngerasa perlu bahu untuk bersandar lagi, mungkin lo bakal ngerasa pasangan baru lo ini nggak ada gunanya. Karena sejak awal, yang lo rasain ke dia itu bukan cinta, tapi kenyamanan sesaat aja. Akhirnya ya, kalo udah bosen, ilfeel seketika.

Jahat ya?

Kasian
Ditelpon gebetan, diajak jadian dengan alasan dia bentar lagi mati karena penyakit ambeien di otak. Terus karena lo kasian, lo terima deh cintanya. Apakah itu alasan yang tepat buat jadian? TIDAK.

Jadian cuma karena kasian, jelas sebuah hubungan yang akan berjalan secara pincang. Cinta itu kan membutuhkan ketulusan, kepercayaan, dan kenyamanan. Kalo jadiannya karena kasian, maukah lo nyium dia dengan penuh rasa cinta? Di saat dia belum gosok gigi selama 5 bulan?

Gue yakin, lo nggak bakal ngerasa nyaman untuk menggenggam tangan, memeluk, maupun mencium orang yang nggak benar-benar lo cintai. Karena rasa kasian dan rasa cinta itu beda. Cinta itu ingin memiliki, kasian itu ingin bantu. B-e-d-a. Endingnya apa? Secara nggak sadar, lo udah nipu pasangan lo itu. Cinta yang lo beri ke dia, palsu.

Sedih ya?

Yang mau gue tekankan di tulisan ini sih, "Jangan makan saat terlalu lapar, makanlah sebelum lapar".

Hah? Dari bahas soal hubungan kok jadi bahas kuliner. Lo mabok solar, Litt?

Nggak.. Jangan telan kalimat itu secara arti harfiahnya. Itu cuma analogi. Maksudnya begini, kalo lo makan saat sedang terlalu lapar, tumis beton pun terasa enak. Lo nggak bisa bedain lagi mana makanan yang bergizi dan mana yang beracun. Semua bakal lo makan karena perut udah memaksa untuk diisi.

Nah, begitu juga dalam hubungan. Jangan memilih pasangan saat lo sedang putus asa. Karena, dalam keadaan seperti itu, lo akan melupakan banyak pertimbangan penting dalam memilih pasangan. Semuanya lo anggap bagus. Akhirnya apa? Bisa aja lo ngambil pasangan yang salah. Yang nggak berkualitas. Yang hanya akan menyenangkan lo di awal, tapi merepotkan lo di belakang. Mending kalo komitmennya cuma pacaran. Lha kalo udah nikah? Kebayang nggak, seremnya menikahi orang yang ternyata suka berak di jendela? Seumur hidupnya. Hiiii..

Selalu percaya dan sabar aja. Tuhan akan memberikan yang kita BUTUH, bukan yang kita MAU. Dan soal jodoh, biasanya Tuhan akan memberikan pasangan yang memang PANTAS untuk kita dapatkan. Buat lo yang doyan nongkrong di diskotik, ya susah buat dapet pasangan anak pesantren. Buat lo yang suka bergaul sama cabe-cabean, ya susah buat dapet pasangan wanita karier. Intinya, pantaskan diri dulu, lalu biarkan Tuhan memilihkan yang pantas untuk menjadi pasanganmu. Jangan protes karena lo nggak laku-laku, di saat lo ngabisin waktu cuma di kolong tempat tidur melulu.

Ciao!

Hal-hal Ini Sebaiknya Dihapus Dari Program OSPEK dan MOS

Beberapa tahun lalu, gue sempet sebal karena adek gue minta barang aneh-aneh buat dibawa ke sekolah. Mulai dari bawa karung goni, sampe kudu bawa jangkrik yang pake behel. Dan barang-barang itu harus dikumpulin pas MOS hari pertama. Sulit.

Hal itu bikin gue mikir, sebagian sekolah dan kampus di Indonesia mengizinkan adanya kegiatan-kegiatan penindasan senior kepada junior di dalam program OSPEK dan MOS. Gue suka bingung sama program Orientasi yang isinya hal-hal nyeleneh ini. Gunanya apa?

Sebelum kita bahas lebih lanjut, yuk mari kita telaah dulu artinya Orientasi menurut KBBI:

orientasi/ori·en·ta·si/ /oriéntasi/n

1 peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb) yg tepat dan benar;
2 pandangan yg mendasari pikiran, perhatian atau kecenderungan.

Oke.. Jadi, masa orientasi sekolah bisa diartikan sebagai masa pembentukan arah pandangan untuk menentukan sikap yang tepat dan benar selama berada di sekolah tersebut. Jadi, kalau masa orientasi ini diisi dengan kegiatan sampah, maka para siswa baru ini juga akan bertingkah layaknya sampah saat sekolah. Gue sih, nggak setuju kalo gue udah bayar mahal-mahal buat sekolah adik gue, tapi di hari-hari pertama sekolahnya, dia diperlakukan kayak budak oleh seniornya.

Nah, apa aja sih hal-hal yang nggak penting dari OSPEK/MOS yang ada di negeri kita?

1. Bawa Barang Aneh-aneh
Hal semacam yang dilakuin adek gue seperti yang gue sebutin di pembuka tulisan ini, ternyata masih terjadi di tahun 2015 ini loh. Tadi gue liat TL temen, dia ternyata juga ngeluhin hal yang sama seperti yang pernah gue keluhin.


Coba, adek-adek yang ngerasa senior di kampus/sekolah, kasih tau Kak Alitt, apa gunanya barang-barang itu? Apa manfaatnya untuk siswa baru dalam proses pengenalan sekolah? Ini lembaga pendidikan, atau lembaga latihan jadi gembel yang makan makanan seadanya?

Mungkin senior dia ngajarin gimana caranya agar sendal gak ketuker pas Jumatan.


2. Hukuman Fisik


Ngebaca jawaban follower gue yang ini, gue sedih. Kenapa lingkungan sekolah yang harusnya jadi tempat yang penuh dengan ilmu, malah jadi lingkungan yang penuh dengan terror? Para siswa itu punya kemampuan fisik yang beda-beda, kalo disamaratakan, pastinya bakal ada aja siswa yang tumbang di tengah program.

Dan kenapa hal kayak gini nggak dihapus-hapus sih? Padahal udah sering jatuh korban jiwa loh. Nih contohnya: 5 Kasus Siswa Tewas Karena Penganiayaan Saat OSPEK

Orang tua mana yang nggak sedih ngelihat anaknya yang disayangi, diciumi tiap hari saat bayi, dibesarkan dengan sepenuh hati, tewas cuma gara-gara senior sok jagoan yang mukulin junior yang nggak boleh ngelawan?

3. Penindasan Verbal
Dibentak-bentak, dikatain payah, disalahin, mungkin sebagian dari kalian udah pernah ngalamin. Tapi ada juga kok anak yang disayang banget sama ortunya, sampai-sampai dari kecil dia nggak pernah dibentak-bentak. Tiap dia bikin kesalahan, dia cuma dinasihatin. Anak yang model begini, sekalinya dibentak-bentak oleh senior, dia bakal ngerasa trauma. Nah, apakah bikin siswa baru jadi trauma adalah salah satu misi program orientasi sekolah?

Mungkin teriakan atau bentakan masih wajar dilakukan di lembaga pendidikan militer. Karena mereka adalah calon prajurit yang harus kuat mentalnya. Jadi, hal ini bisa jadi salah satu cara untuk mengasah mental mereka. Tapi di sekolah normal yang siswanya bisa datang dari berbagai jenis kalangan, kekerasan verbal menurut gue nggak cocok untuk diaplikasikan. Karena bagi siswa yang nggak kuat terhadap kekerasan verbal, hal itu bisa menimbulkan rasa trauma.

4. Ngelakuin hal aneh-aneh
Gue pernah ngalamin di zaman sekolah, disuruh minta tanda tangan senior. Gue tau sih, kegiatan ini gunanya buat bikin gue kenal sama senior-senior di sekolah. Gue masih nganggep hal ini oke. Yang nggak oke adalah kegiatan semacam ini:


Ini orientasi pengenalan sekolah, atau kursus mengusir drakula deh?



Ayo adik-adik.. Jadilah budak senior.. Permalukanlah dirimu sendiri.. Ayo!!

Contoh kegiatan aneh yang sering terjadi di kegiatan orientasi sekolah yang nyeleneh:

Para siswa baru disuruh ngemut satu permen secara bergiliran.

Kalo ada siswa yang punya penyakit yang menular lewat liur, tuh senior bakal gimana? Mau ngobatin semua? 

Btw, hal-hal aneh di atas bikin gue keinget kata-kata Soe Hok Gie berikut:


Untungnya, kampus gue dulu (Universitas Sanata Dharma) OSPEK-nya juga udah kayak di kampus-kampus maju di barat. Pertama, kami dikenalkan dengan kampus. Mulai dari setiap ruang dan gunanya, sampai kantinnya ada di mana dijelasin semua. Kami diberikan kesempatan untuk berkreasi, menciptakan sesuatu dengan kelompok (membuat kami mengenal satu sama lain), lalu hasilnya dipentaskan dan ditonton oleh kelompok lain. Bahkan kami diberikan edukasi seks yang positif untuk mencegah terjadinya seks bebas yang kerap melanda para MaBa yang tersesat. Program orientasi kampus yang pernah gue jalanin itu bener-bener ngebantu gue sebagai MaBa untuk mengenal lingkungan baru gue itu.

Sebagai referensi, berikut gue cantumin beberapa foto kegiatan Orientasi dari sekolah/kampus di barat yang konon lebih maju program pendidikannya. Intinya, mereka bener-bener menggunakan masa orientasi ini untuk memperkenalkan lingkungan baru kepada para siswa baru. Selain itu, biasanya para siswa baru diajak untuk berdiskusi dan mengajak mereka untuk lebih kritis dalam melihat sebuah masalah. Diskusi adalah cara yang efektif sekaligus bermanfaat untuk mendekatkan masing-masing siswa baru.



Ngelihat foto di atas, kalian udah miris belum ngeliat program orientasi sekolah di sebagian sekolah/kampus negeri ini?

Gue ngerti, sebagian dari penyelenggara program orientasi itu pengin menanamkan rasa hormat dari para siswa baru kepada senior. Tapi penggemblengan dan penganiayaan menurut gue bukanlah cara yang tepat untuk membangun rasa hormat. Contohnya, dengan gaya OSPEK yang gue jalanin di kampus gue dulu, justru gue ngerasa hormat kepada senior yang udah nyambut MaBa kayak gue dan nunjukin segala yang perlu gue tau dari kampus baru gue dengan baik. Gue ngerasa hutang budi sama para senior itu. Tolong diinget, hormat karena segan itu lebih baik dibanding hormat karena takut. Karena orang takut itu cuma hormat di depanmu, dia siap menusukmu kapan aja saat berada di belakangmu.

Buat kampus/sekolah yang masih make cara kekerasan, kekonyolan atribut, dan segala kegiatan penindasan siswa baru untuk mengisi program OSPEK/MOS, gue anggep kampus/sekolah itu masih PRIMITIF!

Sekian sharing gue hari ini. Tulis tanggapan kalian tentang program orientasi yang penuh kekerasan/kegiatan penindasan di kolom komentar ya~

Tragedi Saat Liburan, Berbuah Pelajaran

Sekitar 3 minggu yang lalu, gue lagi main drone sama sohib gue Tyo. Kita main di lapangan area Pondok Indah. Gue nggak mau Tyo jadi kacang cuma nemenin gue main, makanya, gue bawa drone 3 biji. Saat lagi asyik main, gue liat Tyo nerbangin drone gue cukup tinggi. Gue bilang ke dia, "Kalo masih belajar, jangan tinggi-tinggi, Yo. Mending latian landing halus dan hovering ajah."

Tyo pun mengikuti instruksi gue. Dia terbangin drone itu, lalu landing, terbangin lagi, lalu landing lagi. Sampai akhirnya gue liat drone dalam kondisi miring, Tyo panik, drone itu terbalik dan jatuh. Efeknya....


Gimbal kameranya copot, kabel ribbon putus

Biaya yang harus gue keluarin buat benerin Drone itu cukup gede juga. Dan ntah kenapa, saat itu gue nggak punya niatan buat marah-marahin Tyo karena gue nyadar, Tyo nggak ngelakuin hal itu secara sengaja. Ntah kenapa, dari dulu gue nggak bisa ngerti esensi dari ngamuk-ngamuk ke orang yang nggak sengaja bikin kesalahan. Gue cuma tahu, emosi itu cuma bakal nguras energi, tapi nggak bakal ngasih solusi.

Setelah gue benerin drone itu, gue cuma bilang ke Tyo, “Kerusakan yang lo bikin seharga 4,5 juta, tapi persahabatan kita nilainya tak terhingga. Jadi, gue nggak mau minta ganti rugi sepeser pun. Karena kita masih sahabatan kan?”

Tyo mengamini ucapan gue.

Kenapa gue ceritain pengalaman gue di atas? Karena gue abis ngalamin kejadian yang bikin gue lebih mengerti tentang keikhlasan.


...


“Kita jadi ke Borobudur kan, Le?” Begitulah pertanyaan eyang dari ujung telepon sesaat setelah gue bilang “Halo.”

“Insyaallah, Eyang.. Nanti aku usahain mudik lebih awal biar sempet ke Borobudur sebelum Lebaran.

“Ya harus sempet. Mumpung Eyang masih hidup.”

“Eyang harus panjang umur lah.”

“Amin.”

Begitulah kira-kira obrolan gue sama Eyang putri beberapa hari sebelum gue mudik dari Jakarta menuju kampung beliau di Sragen. Beberapa tahun terakhir gue rutin ngajakin Eyang dan keluarga besar buat piknik setiap abis lebaran sebagai momen kebersamaan keluarga yang cuma bisa menyatu setahun sekali itu. Selain itu, sejak Eyang Kakung meninggal, gue emang pengin banget selalu melukis keceriaan di hati Eyang Putri. Karena gue tumbuh dan berkembang di dalam kasih sayang eyang.

Untuk tahun ini, eyang pengin banget ngelihat Candi Borobudur dan Laut Selatan, tepatnya Pantai Parangtritis Yogyakarta. Gue pun sengaja mudik di H-10 lebaran biar nggak kena macet dan pengin piknik sebelum lebaran. Belajar dari pengalaman tahun lalu, kalo piknik pasca lebaran, kondisi obyek wisatanya bakal kayak gula sebiji diserbu semut seprovinsi.

Obyek wisata, kalo lebaran berubah jadi bubur manusia

Kami berangkat dengan menggunakan 2 mobil. Soalnya, total orang yang ikut adal 14 orang. Om gue dan bininya, pakdhe gue dan bininya, serta anak-anak mereka ada di mobil sebelah. Sedangkan gue di mobil ama eyang, adek, mama, dan bu lik. Perjalanan dimulai dari Sragen pukul 5 pagi, gue dan keluarga pun sampai di Borobudur pukul 11. Di sana, kami melakukan hal-hal layaknya para turis. Foto-foto, belanja suvenir, dan buang sampah pada tempatnya. Gue salut melihat eyang mampu menaklukan anak tangga Candi Borobudur hingga puncaknya di usia beliau yang sudah hampir 80 tahun. Sedangkan gue, tiap naik 10 anak tangga, kudu berenti dan ngeliatin foto Raisa biar semangat.




Setelah puas bernarsis-narsis ria di Borobudur, eyang ngajakin pindah tempat. Kami pun melanjutkan perjalanan dari Borobudur ke Pantai Parangtritis yang jaraknya kurang lebih 60an KM. Di sepanjang perjalanan, eyang muntah-muntah mulu, gue pikir beliau masih sering dugem. Ternyata, beliau cuma mabuk darat. Kasian sih, cuma beliau ngotot untuk tetap melihat Pantai Parangtritis. Akhirnya, perjalanan tetap kami lanjutkan.

Sesampainya di Pantai Parangtritis, kami kembali menikmati pantai layaknya turis. Nulis nama mantan di pasir pantai, kejar-kejaran sama ombak, dan ngambang. Sekian tahun nggak main ke Pantai Parangtritis, gue lumayan pangling. Banyak “mainan” baru yang disewakan di sana. Mulai dari berkuda, sampai main balap motor. Dan saudara-saudara gue, pada main ATV.


Yang mau jadi menantu, coba sini dites fisiknya dulu. *lindas maju-mundur*

Hari ini berjalan dengan indahnya. Sampai akhirnya, sore menjelang. Pukul 4 sore kami memutuskan untuk pulang, agar saat berbuka puasa tiba, kami bisa menemukan warung di kota.

Sebelum balik dari pantai, gue udah nyadar kalo gue mulai capek. Soalnya malam sebelumnya gue tidur pukul 2 pagi ngelemburin kerjaan, terus besoknya langsung nyetir selama 5 jam plus 2 jam. Jadi, daripada terjadi apa-apa, gue minta om gue buat nyetirin mobil gue, agar gue bisa tidur. Gue duduk di mana? Duduk di jok sebelah om gue. Eyang gue ke mana? Beliau minta pindah ke mobil satunya karena beliau bilang, pewangi mobil gue lah yang bikin beliau mabuk darat. Padahal, gue nggak ngerasa masang pewangi mobil. Mungkin aroma kaos kaki basah gue yang kesimpen di mobil selama seminggu itu, dikira aroma parfum mobil kadaluarsa sama beliau. Sedih.

...

Kami pun meluncur meninggalkan Pantai Parangtritis. Om gue nyetir, sedangkan gue duduk di sebelahnya. Karena tersiksa oleh rasa letih, gue pun mulai ketiduran. Waktu terasa sangat cepat berlalu karena pulasnya gue tidur. Lalu, tiba-tiba terdengar suara teriakan, “Loh? Kok nggak berenti?! Loh! Loh! Brak!!” 

Gue kebangun dan mendapati kaca depan mobil gue udah retak, ada beberapa potong genteng berceceran, dan kayu di depan mata gue. Suasana lumayan gelap, terdengar suara Sophie, anak balita om gue menangis. Gue panik, dan langsung menoleh ke samping dan belakang, memastikan semua orang selamat. Dan Alhamdulillah, bu lik, nyokap, pak lik, dan adek gue selamat tanpa cidera sedikit pun. Mereka hanya shock karena tragedi yang baru terjadi. Gue juga masih bingung dengan apa yang baru terjadi. Gue nyoba keluar dari mobil dan melihat apa yang menimpa mobil gue. Dan yap..

GTA (Grand Teft Astaghfirullah)

Ternyata mobil gue nabrak sebuah warung makan. Kemungkinan tadi om mau berenti di warung makan buat nyari hidangan buka puasa. Gue juga shock ngeliat keadaan mobil gue yang lebih parah dibanding mobil yang abis dipake om Vin Diesel nyerang Israel.

Beberapa saat kemudian, orang-orang berkerumun menolong kami untuk membebaskan puing-puing atap warung dari mobil gue. Om gue yang shock udah dikeluarkan dari mobil. Saat gue diminta mundurin mobil, gue nemu sendal om yang berada di bawah tuas rem. Dari petunjuk itu, gue bisa nyimpulin bahwa om gue nyetir tanpa sendal, nah, pas sendalnya kegeser di bawah tuas rem, otomatis remnya nggak bisa diinjek. Tolong buat temen-temen yang hobi nyetir sambil nyeker, alas kakinya taroh di lantai seat sebelah aja yah. Biar hal ini nggak terjadi juga di situ.


Setelah gue sukses minggirin mobil, gue deketin om gue yang masih shock dan bininya yang mangap-mangap nangis sambil bilang, “Ini ntar gimana mas? Ini ntar gimana? Aku mau ganti pake apa?!”

Gue nggak mau marah ke mereka. Gue pun nyoba nenangin mereka, “Sudahlah Pak Lik, Bu Lik, yang penting kita semua selamat. Mending lebaran nanti tanpa mobil, daripada tanpa keluarga. Soal mobil jangan dipikirin. Tenan. Ndak apa-apa. Itu mobilnya asuransi full risk. Nanti bakal dibenerin sama asuransinya, GRATIS.”

“Terus warunge ini nanti gimana gantinya?!” Bu Lik gue masih panik.

“Kita berdoa ajah, yang punya warung ini nggak akan memperparah urusannya. Berdoa ajah.” Gue jawab dengan setenang mungkin, walaupun dalam hati gue sendiri juga resah. Gue takut kalo yang punya warung bakal nggak bisa jualan, dan bahkan gue takut kalo yang punya warung bakal bawa urusan ini ke polisi.


Waktu berjalan, adzan Isya mulai berkumandang. Kami duduk di meja warung bagian belakang. Pelayan warung itu memberikan beberapa teh hangat untuk menenangkan kami. Lalu dari kejauhan, datang sesosok pria kurus, tinggi, dan dari perawakannya, gue kira dia berusia 30an.

“Halo.. Saya Andri.. Pemilik warung ini.”

Belum sempat gue bilang apa-apa, dia tiba-tiba ngomong. “Ayo diminum dulu tehnya.”

Kami secara kompak meminum teh hangat yang disediakan. Andri melanjutkan, “Tenang.. Tenang.. Untuk saat ini saya minta anda tidak usah memikirkan dulu masalah ini. Yang penting tenangkan pikiran dulu.”

Andri terlihat memanggil salah satu pelayan, lalu berbisik. Setelah pelayan itu pergi, Andri melanjutkan pembicaraannya, “Begini.. Saya tau, anda tidak berniat sama sekali untuk menabrak warung saya. Saya yakin itu.”

Kami mengangguk tanpa berkata sepatah kata pun. Andri kembali melanjutkan, “Jadi, menurut saya, saya tidak perlu menuntut apa-apa dari anda. Karena, mau ditabrak ataupun tidak, saya memang mau mengganti teras warung saya itu. Saya percaya, segala hal yang terjadi di dunia, sudah pasti atas izin-NYA. Jadi, apapun yang terjadi, pastilah ada alasan baiknya.”

Gue reflek tersenyum mendengar kalimatnya yang sangat adem di telinga dan hati. Lalu, gue menjawab, “Saya juga percaya, bahwa perkenalan ini pasti punya alasan yang baik bagi kita kelak. Tapi mas.. Saya tetap merasa harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Jadi, kira-kira bisakah anda sebutkan berapa nilai ganti rugi yang harus saya keluarkan untuk menghilangkan beban anda?”

“Saya tidak akan menyebut nilai, mas. Saya tidak mau. Sumpah saya tidak mau. Saya menyerahkan sepenuhnya kepada anda, berapa kira-kira ikhlasnya anda untuk mengganti kerusakan ini. Toh, tidak banyak kok yang perlu diganti. Hanya beberapa batang bambu dan genteng saja.” Jawab Andri dengan sangat tenang.

“Tapi mas.. Saya tidak tahu berapa nilai yang layak untuk mengganti semua.” Gue makin bingung.

“Terserah mas saja.. Dan, saya ndak minta sekarang kok mas. Saya tahu keadaan mas sekeluarga juga sedang sangat tidak enak. Saya tidak mau menambah beban anda sekarang. Silakan besok-besok saja. Tidak apa-apa.”

Gue tertegun mendengar kalimat Andri barusan. Di saat tempat dia mengais rezeki hancur, dia masih memikirkan keadaan kami.

“Serius mas? Anda percaya sama kami? Anda percaya misal kami akan menggantinya esok atau lusa?”

“Iya.. Saya sangat percaya.” Jawabnya sigap.

“Terima kasih banyak untuk kebijaksanaan anda, mas Andri. Mungkin, agar lebih nyaman, saya akan meninggalkan kartu identitas saya sebagai jaminan.” Gue nyoba ngeyakinin Andri bahwa kami nggak bakal curang.

“Tidak perlu.. Serius. Saya tidak meminta itu. Kembali lagi, saya percayakan sepenuhnya kepada keputusan anda. Saya percaya.”

Nggak ada satu kata pun yang mampu menggambarkan apa yang gue rasain saat itu. Gue cuma bisa tersenyum dengan tatapan penuh kekaguman kepada Andri. Lalu, datanglah pelayan yang tadi dipanggil Andri. Dia membawa nampan berisi makanan.

“Nah.. Sekarang, saya minta anda semua makan dulu. Pastinya tadi pengin buka puasa kan niatnya ke sini?”

Kami kompak mengangguk.

“Yuk.. Dimakan dulu. Setelah kenyang, dan pikiran tenang, silakan anda pulang dan beristirahat dulu. Jangan pikirkan dulu masalah ini.” Malam itu, gue ngeliat sebuah ekspresi adem penuh ketulusan yang amat jarang gue temui di zaman sekarang.

Itulah akhir dari drama liburan keluarga gue hari ini. Gue abis ketemu manusia yang super duper langka di zaman setengah gila ini. Mungkin banyak orang yang di posisi Andri bakal nyari untung atas bencana orang lain dengan cara “malak” ganti rugi yang besar, tapi dia tidak. Mungkin banyak orang yang akan memanfaatkan posisinya sebagai korban untuk memeras, tapi Andri tidak. Mungkin banyak orang yang akan mengamuk-amuk karena propertinya dihancurkan oleh orang yang tidak dia kenal, namun Andri malah menenangkan kami.

Hari ini, gue dapet pelajaran baru dari hidup. Ikhlas adalah obat hati paling mujarab. Dari Andri, gue juga belajar untuk lebih tenang dalam keadaan seperti ini. Gue nggak ngomelin om gue, karena ngomel-ngomel nggak bakal bikin semua masalah selesai secara instan. Dari Andri, gue belajar untuk selalu mendahulukan kemanusiaan dibandingkan uang. Dari Andri, gue belajar bahwa silaturahmi bisa dimulai dari hal-hal yang tak terduga.


...

Kejadian barusan, mengingatkan gue kepada drone yang dirusakin sohib gue, Tyo beberapa minggu yang lalu. Dan hari ini, terbukti.. Karma baik juga terjadi ke gue. Saat keluarga gue ngerusakin properti orang, gue nggak ngerasa dipalak, dimarahi, maupun dicurangi. Gue malah ngerasa pengin lebih mengenal korban ini. Mungkin ini rasa yang sama seperti yang Tyo rasain pas gue nggak marah-marah sama dia. Yang paling gue syukuri dari kejadian ini adalah, nggak ada satu orang pun yang cidera. Dan Alhamdulillah eyang pindah mobil sebelum kejadian. Beliau ada masalah sama jantung, nggak kebayang deh kalo beliau yang duduk di samping kursi kemudi saat kejadian.

Jujur, sebagai manusia ada sedikit rasa kecewa di hati gue atas tragedi ini. Tapi gue nggak mau ngasih makan ego gue dengan kekecewaan ini sehingga gue ngamuk-ngamuk ke sodara sendiri. Gue nggak mau lebaran taun ini terasa nggak nyaman di keluarga. So, I'll pretend everything is okay. Karena sekali lagi, mending lebaran tanpa mobil, dibanding lebaran tanpa kehangatan keluarga.

Sekian curhat gue hari ini. Maaf kalo berantakan banget. Gue cuma pengin numpahin apa yang ada di kepala karena pengalaman barusan bener-bener bikin gue ngerasa sangat campur aduk. Yang jelas, gue semakin percaya bahwa orang baik, akan dipertemukan dengan orang baik, dan akan diberikan kehidupan yang baik juga. Dan gara-gara temen gue ngechat, gue tadi malah nyeplosin sebuah pemikiran untuk menyikapi setiap cobaan:




Setuju?

Makasih udah baca curhatan gue. Semoga ada pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini. Untuk mas Andri, pemilik warung Soto Seger Sastro yang berlokasi di depan kantor Imigrasi Surakarta, semoga Tuhan selalu memberikan kehidupan sedamai pola pikir anda. Dan semoga, kita bisa selalu menjalin tali silaturahmi yang abadi. Saya kagum dengan orang-orang seperti anda.

UPDATE:



- Kemarin gue ke lokasi warung Soto Seger Sastro untuk melihat proses renovasinya, dan alhamdulillah udah kelar. Warungnya udah beraktivitas dengan normal kembali. Semoga semakin laris.




- Alhamdulillah Tuhan ngasih rezeki buat benerin kaca mobil buat dipake mondar-mandir silaturahmi ke rumah saudara-saudara pas lebaran, sisa kerusakan body bakal gue klaim ke asuransinya.



- Om gue yang masih kepikiran, keliatan sangat down, tapi udah gue coba tenangin, dan syukurlah dia nggak jadi tukang bengong lagi.

Tuhan maha baik, selalu ngasih cobaan sekaligus solusi. Jadi, kita yang menjalani dengan ikhlas, malah terhibur gini. :D